Somersault Justice!

…and dead end irony…

Ojeg Pt. 1

Tukang ojeg, terutama yang mangkal di sekitar halte busway, rupanya punya strategi dagang sendiri. Pasang harga setinggi langit, berprinsip lebih baik ga narik daripada dapet sedikit. Sama persis dengan etos kerja abang becak (pernah dikomikkan dengan sangat menarik oleh Ahmad Faisal Ismail aka Ismail Sukribo) yang memilih tidur kemulan di dalem becak; “jalannya nanjak Pak…”

Sebal dong. Even walaupun saya niatkan jadi langganan dan sering-seringin naik dari situ, tetap saja saya ditarik tarif garong. Akhirnya saya memutuskan tidak pernah naik lagi di pangkalan situ. “Tidak niat kerja,” begitu pikir saya.

Ada lagi yang bikin kesal. Kadang saya diminta tarif yang hampir dua kali lipat harga langganan dengan dalih
“Tambahin dong bang, saya muternya jauh…”
Kalau boleh dijawab, saya bakal jawab
“Ya udah, saya ikut muter aja ya biar ga mubazir bayarnya…”

Sebenere saya punya preferensi lebih pada ojeg karena paling praktis, dan ada distribusi pendapatan juga ke para abang-abang ini. Saya pendatang di Jakarta, dan mendapati bahwa membawa kendaraan pribadi hanya menambah ongkos dan membebani emosi saya (oleh kemacetan).

Sambung entar..
Ngantor dulu..

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: