Somersault Justice!

…and dead end irony…

Pluralitas dan Pluralisme

pluralitas

pluralitas dan pluralisme itu berbeda

Here we go,

  • Terjadi tipikal debat kusir mengenai pluralisme di sana sini. Yang satu mendifinisikan pluralisme sebagai A, yang satu sebagai B. Terang aja argumennya ngga bakal ketemu, yang diomongin beda. ;-)
  • Debat sering bermula dengan slogan provokatif seperti, “Pluralisme? Injak saja!”  8-O

    Pluralisme? injak Saja! Jrot jrot..

    (seriously, walaupun cuma ungkapan, KENAPA DIINJAK?😐 )

  • Debat tersebut umumnya berlanjut makin tidak sehat, karena diikuti dengan

  “…bego banget sih, pluralitas sama pluralisme aja ngga bisa bedain…  

  • Rupanya satu pihak mendefinisikan pluralitas dan pluralisme dengan berbeda. 
  • Pluralitas  dianggap memiliki arti positif, keberagaman yang bermuatan toleransi,  sedangkan;
  • definisi pluralisme, menurut Fatwa MUI Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 adalah

“Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”.

  • …definisi ini sendiri sudah rancu sedari dahulu. Saya ingat, waktu isu ini pertama kali diangkat, komentar dari salah satu tokoh Islam adalah:

“….lha gimana, bikin istilah sendiri, terus dipertentangkan sendiri…” (masih nguprek2 arsip tajuk rencana Suara Merdeka, semoga masih ada versi webnya)

  • Walaupun sudah diangkat sejak lama, definisi pluralisme versi MUI tidak pernah dipergunakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
  • Internationally, rupanya hanya Indonesia yang punya perbedaan definisi pluralisme  :| Misal, coba lihat definisi yang diangkat akademisi ini – Geir Skeie, 1995

…masih menganggap tidak mengetahui beda pluralisme dan pluralitas itu ‘menyedihkan’ atau ‘bego’? (nyatanya banyak pihak kontra-pluralisme yang ngga tau bahwa definisi ini berawal dari fatwa MUI) So, berdiskusilah dengan baik. Tanpa mengejek. Tanpa trolling di luar konten argumen itu sendiri.🙂

Sepertinya yang bisa menyelesaikan debat (yang tidak perlu ini ) malah bukan Depag atau MUI dll, melainkan Depdikbud…😀

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: