Somersault Justice!

…and dead end irony…

Archive for the category “photography”

Low speed sync speedlight on daylight…

Usually my friends keep asking why am I so awesome, but one day a friend asked my why I always put my speedlight on camera, despite it was broad daylight and my flashlight cannot do high speed sync.

We learned that high-speed sync speedlight will allow you to catch the light, even when light intensity is abundant. Unfortunately my speedlight is not that great. I love it and it’s very helpful when I’m shooting indoor. I cannot afford fancier one, but I keep trying to exploit to compensate the gap.

How to make it work with high shutter speed?

Simply raise the light intensity to max or almost max, depending on how far the model is standing at. Bend the flash head pointing directly to the model.

How does it work? Well, increasing the intensity means prolonging the flash duration. Absolutely we are not preserving battery and waste too much power compared to amount that can be captured by camera. Overusing it can fry your speedlight as well, so… don’t do machine gun snapping.

Image

Basics: During daylight, object may be darker than the background. If we set the metering value at skin exposure, the background may be whited out, OE. On picture above, exposure is adjusted to capture the background well, leaving the model slightly underexposed. This is where the flash compensated the light.

This case: As I explained a bit before, generic flash (mine) will work only at 1/125 speed, that’s why some camera models lock speedlight use shutter speed set to higher than 1/125. You need to unlock it first! Pointing speedlight head at the same direction with lens is usually avoided, but in this case, don’t worry too much because the sunlight will dominate the illumination anyway. You still need to adjust the intensity of speedlight depending on the distance, though.

Kit used: Sigme 105mm (borrowed it), Nissin speedlight

 

(note: this time I really had to drag my butt to start learning writing in English. It’s not that I think my English is great, it’s totally the opposite.)

Photography sweet spots are the creepiest spots

Adakah tempat eksotis untuk memotret di daerah anda?

Favorit (baca: pasaran) fotografer Jakarta adalah kawasan kota tua, gedung seperti kertaniaga, cipta niaga, gedung akar dll yang awalnya hanya tempat sampah atau puing-puing yang siap dirobohkan, sekarang bisa disewakan 100 ribu per jam.. Lalu ada museum bank mandiri, gedung pos lama, dan deretan lain di daerah itu.. Tempat lain di luar kotu adalah taman Langsat (Barito) yang luas dan penuh pohon tua.

Intinya satu, kata ‘tua.’Sialnya, tempat-tempat tua nan eksotis itu biasanya juga angker.

Umumnya fakta ini tidak terlalu mengganggu fotografer karena event selalu diadakan dalam kelompok besar dan dilakukan siang hari. Namun cukup mengganggu buat mereka yang kebetulan punya additional sense 😀

Misalnya, waktu itu diadakan hunting di Taman Barito. Teman saya (model), tiba-tiba kabur dari spot dan menolak memandang ke satu penjuru. Tentu saja dia bingung bagaimana menjelaskan ke grup fotografer karena itu siang bolong… Dan kemudian terungkap juga bahwa siang itu ada model lain yang juga ‘diganggu’.

Hari sebelumnya di spot yang berdekatan di taman yang sama,  saya memotret teman untuk foto pro-wedding. Rupanya sang mempelai wanita juga punya sixth sense yang jauh lebih parah, dan menolak mentah-mentah foto di beberapa spot yang padahal bagus 😀

Saya pernah bahas sebelumnya. Kepekaan indera ini berlaku dua arah. Apabila anda bisa melihat, lebih mudah pula dari sisi sebelah sana untuk melihat anda. Walhasil makhluk ini akan cenderung tertarik nyamperin 😀  (konsep ini secara mengejutkan juga dipahami orang Jepang, secara gamblang bahkan pernah diulas di manga seperti Hanada Shonen Shi)

We are Indonesian. We surely have seen and heard strange shit. I am not going to let MTV tell me what’s superstitious or  not. This stuff does exist 😉

@Mariaayaa @ Taman Langsat / Barito

Fotografi: RAW vs JPEG for rakyat jelata

Berhubung sudah banyak artikel yang membahas RAW vs JPG, saya akan meloncati tinjauan mbuletnya 😀 Poin-poin di bawah ini adalah pertimbangan pakai RAW atau tidak dari sudut fotografer fotografer jelata (seperti saya) :

Silakan pakai RAW apabila Anda memenuhi satu atau syukur-syukur beberapa syarat di bawah ini:

  1. memotret sebuah event penting yang tidak bisa diulang
    (e.g. Obama mukul gong pembukaan  Cerdas Cermat – untuk berjaga-jaga seandainya editing diperlukan)
  2. tidak akan mengambil banyak gambar
    (susah nyimpen dan terlalu banyak file yang harus diedit)
  3. akan melakukan heavy-editing pada sebagian besar foto ,
    (misal, karena exposurenya ga pernah benar karena satu atau lain hal, white balance auto terus berubah-rubah)
  4. punya dan bisa mengoperasikan software untuk mengedit RAW
    (Saya ada masalah dengan display Nikon Raw – NEC, display gammanya tidak pernah benar dengan ACDSee Pro 2)
  5. memiliki software untuk mengkonversi RAW ke JPEG secara massal (karena klien selalu minta JPG, bukan Raw) Pastikan decodingnya benar 😀
  6. memiliki computer dengan spec yang reasonably kuat untuk mengedit raw. (Tentu saja loading dan rendering lebih lama dari jpg 😀 )
  7. Anda punya banyak space di harddisk
  8. Bila berniat backup, pastikan anda mempelajari karakter dari kompresi JPG.
  9. Anda yakin file system memory card anda dalam keadaan baik, karena file raw cenderung sukar direcover saat card error.

Intinya, kalau alasan anda memakai RAW hanya karena alasan “RAW lebih bagus,” maka anda belum saatnya memakai RAW. 😀

Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi beberapa link seperti di bawah ini:

JPGist, most elaborated – www.kenrockwell.com/tech/raw.htm
RAWist – http://neilvn.com/tangents/2011/06/18/raw-vs-jpg-the-final-discussion/
RAWist, with pictures: – http://froknowsphoto.com/raw-vs-jpeg-side-by-side-comparison/

Post Navigation